Friday, May 22, 2015

Sajak-sajak INDRA NARA PERSADA, 1976-1980 (6)



/indra nara persada/

NYANYIAN KESEDERHANAAN

(Lihatlah gadis kecil membawa perian
Pundaknya menggulung harapan
Dengarkan gemercik bukit-bukit ini
Bernyanyi bagimu negeri)

Tanah ini bernyanyi sayang

                : Adalah kami bukit bukit kehidupan
                  dari kabut menyapu jalan
                  sayang, itu bukan kesengsaraan
                  Adalah kami penelisik bilah bilah waktu
                  pemenuh janji abad ini

Dan di sini, di sawah berpematang janji
benih ditanam dalam hati

                : Adalah kami penebar benih ini

Wednesday, May 13, 2015

5 Sajak #MENTAYA

/indra nara persada

MENTAYA #1

derap hujan menumbuhkan sepi di tanah basah, menjerat
langkah yang lelah. ada tanya, "sungai siapa membelah kota

yang renta. sungai sejarah atau luka yang tak menyerah?"

. 14 februari 2011


MENTAYA #2

meski terik mengelupas nafas, sungai ini
tenang mengalir, membawa rahasia ke hulu.

“racun siapa membantun jantungmu, sampah siapa
membarah di ruhmu?”

. 12 februari 2011


INGIN KUBERI

/indra nara persada


ingin kuberi kau darah
yang keluar cuma getah

ingin kuberi kau nyala
yang tersisa cuma puntung

ingin kuberi kau bunga
di dadamu ada buah


. oktober 1995

Sunday, May 10, 2015

IBU & MAUT


/indra nara persada


sekali pagi pagi sekali ibu pergi membawa kain berbelah kaki. terung di punggung, kacang di pinggang, memanjang tak tanggung-tanggung. ketika ada yang bertanya “ke mana?”, ibu menjawab, “ke laut! menemui maut!”

di laut ikan mengepakkan sayap. ibu menjala ombak di untai karang. maut mempermainkan lidah gelombang. “kapan kaupulang?” tanya ibu. “aku pulang tanpa kapan,” jawab sang maut.


. 2 desember 2010

3 HAIKU - TEPI MENTAYA

/indra nara persada


TEPI MENTAYA #1


di tepi mentaya
rumah-rumah tumbuh
berkayu ulin


. 2015



TEPI MENTAYA #2


di rumah panggung
air mengalirkan waktu

Tuesday, May 5, 2015

DI RUANG MATANYA KATA MELAWANG LIANG

/indra nara persada



ah, kuda ini terlalu muda untuk menyerah
meski surainya mulai memunah.

malam meringkik di keningnya
ketika ia memacu angin hingga ke padang
padang asing tak berhuma.
hanya hampar ilalang, bebatu cadas
yang pias, sungai batu yang membekukan
rindu, menelan cahya purnama.

di ruang matanya kata melawang liang
dalam dendam yang tak padam, “aku berlari
ke hulu malam agar bisa menubuh makam,
kekal di tilam jantungmu.”



. 14 desember 2010

Monday, April 27, 2015

Memahami Puisi-puisi Muhammad Ibrahim Ilyas: TRADISI TAK DAPAT DIRAIH, MODERNISASI TAK DAPAT DITOLAK


/indra nara persada


Di dunia sastra, gerakan kembali ke tradisi setidaknya gencar dilakukan sejak pertengahan 1970-an. Hal ini sebagai paradoks dari globalisasi, atau malah antitesis dari modernisasi. Dari ranah Minangkabau (Sumatera Barat) saja misalnya, puisi-puisi Rusli Marzuki Saria, Chairul Harun, Leon Agusta, Abrar Yusra, Hamid Jabbar, Raudha Thaib alias Upita Agustine, Darman Moenir, dan Harris Effendi Thahar tak luput dari hal itu. Cukup banyak yang tak lagi mengejar kemodernan, tapi justru menerima pengaruh tradisi. Atau juga tetap dalam kemodernan tapi memasukkan/memanfaatkan unsur tradisi. Bisa juga: bergerak dalam atau ‘terjebak’ antara tradisi dan modernisasi. Ini pula yang tampaknya terjadi pada puisi-puisi Muhammad Ibrahim Ilyas (Bram).

Pada puisi ‘Konon’(1983), dapat dibaca,

1.
“Hei, aku luka!”
seorang lelaki - masih muda - berteriak membelah kelam.
”Aku butuh kesumat baru untuk kita diskusikan!”
…………………..