Monday, June 15, 2015
6 Puisi INDRA NARA PERSADA
TUBUHMU BERBALUT PURNAMA
ketika engkau dan aku terlalu dekat
gelombang pasang memasang jerat.
dadamu membuka, tubuhmu
berbalut purnama.
di lembah tanpa suara
kugumamkan satu mantra
: cinta!
“dan kita? adalah serigala
pemburu luka.”
. 20 Maret 2011
AGAR CINTA LEKAS BERBUAH
di jalan berkah segala dipermudah. lihatlah
di depanmu anak-anak rembulan melangkah
tak lelah, menanam rindu
agar cinta lekas
Sunday, May 31, 2015
SUARA YANG MEMBAWA CAHAYA
/indra nara persada
benih menubuhkan ladang di tanah
tumbuh yang menghulu
dari gembur dadanya. ini anugerah,
juga amanah. kita
pelihara dengan jiwa, meski darah
meluka luka. kita sirami
dengan cinta, meski rindu belum
jua purna.
“adakah kaudengar suaranya yang
membawa cahaya?”
. 28 desember 2010
Friday, May 22, 2015
Sajak-sajak INDRA NARA PERSADA, 1976-1980 (6)
/indra nara persada/
NYANYIAN KESEDERHANAAN
(Lihatlah gadis kecil membawa perian
Pundaknya menggulung harapan
Dengarkan gemercik bukit-bukit ini
Bernyanyi bagimu negeri)
Tanah ini bernyanyi sayang
:
Adalah kami bukit bukit kehidupan
dari kabut menyapu jalan
sayang, itu bukan kesengsaraan
Adalah kami penelisik bilah bilah waktu
pemenuh janji abad ini
Dan di sini, di sawah berpematang janji
benih ditanam dalam hati
:
Adalah kami penebar benih ini
Wednesday, May 13, 2015
5 Sajak #MENTAYA
/indra nara persada
MENTAYA #1
derap hujan menumbuhkan sepi di tanah basah, menjerat
langkah yang lelah. ada tanya, "sungai siapa membelah kota
yang renta. sungai sejarah atau luka yang tak menyerah?"
. 14 februari 2011
MENTAYA #2
meski terik mengelupas nafas, sungai ini
tenang mengalir, membawa rahasia ke hulu.
“racun siapa membantun jantungmu, sampah siapa
membarah di ruhmu?”
. 12 februari 2011
INGIN KUBERI
/indra nara persada
ingin kuberi kau darah
yang keluar cuma getah
ingin kuberi kau nyala
yang tersisa cuma puntung
ingin kuberi kau bunga
di dadamu ada buah
. oktober 1995
Sunday, May 10, 2015
IBU & MAUT
/indra nara persada
sekali pagi pagi sekali ibu pergi
membawa kain berbelah kaki. terung di punggung, kacang di pinggang, memanjang
tak tanggung-tanggung. ketika ada yang bertanya “ke mana?”, ibu menjawab, “ke
laut! menemui maut!”
di laut ikan mengepakkan sayap.
ibu menjala ombak di untai karang. maut mempermainkan lidah gelombang. “kapan
kaupulang?” tanya ibu. “aku pulang tanpa kapan,” jawab sang maut.
. 2 desember 2010
3 HAIKU - TEPI MENTAYA
/indra nara persada
TEPI MENTAYA
#1
di tepi mentaya
rumah-rumah tumbuh
berkayu ulin
. 2015
TEPI MENTAYA #2
di rumah panggung
air mengalirkan waktu
Subscribe to:
Posts (Atom)